Sabtu, 03 Maret 2018

Cerita Ayam kremes dan Matahari di atas Jakarta

Sebelumnya, pagi-pagi buta, ketika tengah nyenyak dalam lelap, Iko dikagetkan dengan beberapa tepukan lembut di lengannya, bahkan sesekali tamparan setengah kencang ia rasakan di pipinya. Hingga akhirnya ia setengah terbangun sambil memicingkan mata untuk memastikan siapa yang melakukannya.

"emmhh..kamu , Ly. ada apa? masih ngantuk nih!"     

Ya, Lily, wanita mungil yang tengah berusaha membangunkan Iko itu adalah kekasihnya. Mereka pulang larut setelah menonton film bioskop bersama, lalu menginap di rumah teman Iko yang tak jauh dari tempat mereka nonton.

Mereka tidak tidur berdua. Iko tidur dengan Ujank teman dekatnya, sedang Lily tidur bersama adik perempuan Ujank.

Pagi sedikit beranjak terik, hari ini Lily harus segera berada di kampus untuk mengikuti kegiatan perkuliahan. Mungkin itu tujuannya Lily membangunkan Iko secara paksa.

Lalu mereka bergegas pergi dengan mengendarai sepeda motor karena harus mengejar waktu yang dirasa akan terlambat untuk sampai kampus. Sesekali Lily tertidur diboncengan, sambil sesekali Iko memegang tangan Lily agar tidak terjatuh. Tampak romantis. Sepertinya.

Di perjalanan, seperti biasa, Jakarta selalu disuguhkan pemandangan jalan penuh dengan kendaraan yang bisa dibilang hampir mirip "parkir". Kendaraan roda empat yang di dalamnya hanya berisikan satu orang. ya, orang-orang yang bangga dengan kemewahan, orang-orang yang merasa dirinya kaya tapi selalu mengeluh ketika harga BBM naik.

Di sudut-sudut jalan, tampak terlihat petugas pengatur lalu lintas bersembunyi dibalik semak yang siap menjebak si pelanggar. Tak jarang Iko pun seringkali menerobos lampu lalu lintas yang ia lalui. Hingga pada akhirnya sampai di kampus Lily.

"Cepet masuk sana, nanti telat. Aku tunggu di sini ya", Ucap Iko.

"Kamu mau nungguin aku?", tanya Lily heran.

"iya, aku tungguin kamu sampe selesai kuliah", jawab Iko.

"asiiikk..!! eh, tumben kamu mau nungguin aku?"

"tapi nanti beliin aku ayam kremes di kantin kampus kamu yaa! Hehehe"

~"oh!!!!"~

Selasa, 06 Februari 2018

Tentang Merayakan Kekecewaan.

Sebelumnya, aku tidak tahu ingin menulis apa. Bahkan hampir lupa cara menulis yang baik itu seperti apa...
Karena yang aku tahu sampai sekarang hanyalah cara mengingatmu dengan baik. Jadi, maaf sebelumnya jika tulisan ini tidak memenuhi standard EYD atau aturan aturan menulis lainnya.

Masih jelas semua tentangmu diingatan. Bagaimana kamu tersenyum, tawa lepasmu, bahkan suara dan bau kentutmu ketika kita saling berbalas-balasan. Dan juga, aku masih ingat bagaimana kamu menangis, yang tak hayal itu karena ulahku.

Meski ini tentang masa lalu. Tapi, aku tak pernah lupa kata-kata yang pernah kamu ucap untuk menguatkan kita. Yang pada akhirnya kamu sendiri yang menodai dengan ingkar. Tak perlu kujabarkan, mungkin kamu masih mengingatnya. Atau mungkin kamu sudah mengubur dalam dalam diingatan? Karena, seperti pada umumnya, Kamu adalah sebaik-baiknya melupakan dan aku seorang pengingat yang baik.

Mungkin, nanti, ketika akhirnya kamu mendapati hari bahagiamu bersamanya, percayalah! Itu juga akan menjadi hari yang membuatku bahagia....sekaligus kecewa. Karena Bahagia menurutku adalah Kamu dan Aku, bukan Kamu dan Dia. Ya, seegois itu aku mendefinisikannya.

Maka, sudah kuputuskan: Bahkan sebelum hari bahagiamu tiba, aku sudah mulai merayakan kekecewaan dari sekarang.

~RR~