Minggu, 06 Maret 2016

Terlambat

Kamu bilang, aku terlambat berubah menjadi lebih baik
Kamu bilang, aku terlambat berjuang
Dan kamu bilang, aku sudah terlambat untuk memperbaiki keadaan

Lalu, pada akhirnya aku benar-benar terlambat menyadari, bahwa kata terlambat yang kau tuduhkan padaku hanya sebuah alasan atas perasaan egoismu yang membuatku terlambat menahanmu jatuh dipelukannya

Dan aku hanya bisa berduka atas matinya sebuah kesempatan. Yang kau rayakan bersamanya.

Sabtu, 05 Maret 2016

Becak

Kapan terakhir kali naik becak?

Satu pertanyaan yang spontan diucapkan oleh seorang teman sewaktu saya dan dia sedang berada di dalam becak menuju keraton kesepuhan cirebon.

Becak adalah alat transportasi tradisional yang meski keberadaannya di kota-kota besar sudah hampir jarang terlihat. Tapi, di daerah, becak sepertinya masih jadi alat transportasi sehari-hari warga setempat. Ke pasar, ke toko swalayan dan ketempat-tempat lainnya. Seiring berjalannya waktu, becak hampir mulai ditinggalkan, karena sekarang tiap orang sudah mulai beralih ke kendaraan bermotor roda dua.

Terakhir kali saya naik becak, sekitar satu tahun lalu, sama kamu di Jogja. Waktu itu karena kondisinya hujan hendak menuju ke penginapan. Iya, kamu. Salah satu diantara kamu yang sedang membaca tulisan ini. Masih ingat kan?

Jadi, kapan terakhir kali naik becak?

Selasa, 01 Maret 2016

Tentang Perjalanan (Part 2 selesai)

Tepat sepertiga malam kami tiba di stasiun Cirebon Prujakan. Tak ada aktifitas yang berarti di sana, selain petugas keamanan yang berjaga-jaga dan petugas kebersihan yang tengah membersihkan toilet stasiun. Dan tak banyak aktifitas yang bisa kami lakukan selain mencuri-curi waktu untuk tidur barang sebentar si kursi ruang tunggu stasiun sampai matahari muncul.

Selepas subuh kami mulai menyusuri kota Cirebon dengan berjalan kaki sambil mencari sarapan. Setelah berjalan agak jauh dari stasiun, kami menemukan warung makan di pinggir jalan yang ternyata menyediakan makanan Khas Cirebon, Docang. Semacam lontong sayur namun tidak bersantan dengan kerupuk khusus. Setelah perut kenyang kami melanjutkan perjalanan. Belum ada setengah perjalanan, tiba-tiba hujan turun, dan terpaksa kami berteduh di salah satu minimarket ternama yang kebetulan menjual kopi siap saji. Berteduhlah kami sambil menikmati kopi.
Setelah hujan reda, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini tujuan kami adalah Keraton Kasepuhan Cirebon. Kami menuju ke sana naik angkot yang kemudian dilanjutkan dengan naik becak. Angkot di daerah harganya tidak begitu mahal untuk jarak yang cukup jauh, tidak seperti di Jakarta. Becak pun begitu. Setibanya kami di Keraton, kami pun langsung masuk dengan membeli tiket terlebih dulu. Banyak sekali peninggalan-peninggalan yang bersejarah, seperti: alat musik tradisional, senjata tradisional, barang-barang antik yang dulu pernah digunakan pada jaman penjajahan. Dan masih banyak yang lainnya. Setelah tidak terasa hampir 1 jam lebih mengelilingi Keraton, kami keluar untuk melanjutkan perjalanan. Sekarang, saatnya berburu makan siang. Tujuan kami adalah Empal Gentong Amarta yang berada di jalan Plered. Kami ke sana dengan menggunakan angkot. Karena sudah tidak tahan dengan rasa lapar, tidak pakai basa-basi lagi, sesampainya di sana kami langsung memesan menu yang ada. Masing-masing dari kami memesan pilihannya sendiri, ada yang memesan Empal asem, Empal gentong campur, dan saya sendiri memilih Empal gentong daging dan sate kambing. Rasanya? Jangan ditanya, tidak mengecewakan. Memang, makanan khas suatu daerah itu terasa lebih nikmat jika menyantapnya di daderahnya tersebut. Berasa dapat feelnya. Hehe (sebenarnya karena lapar aja)

Agenda selanjutnya adalah kembali melanjutkan perjalanan. Ditengah perjalanan kami mampir sebentar ke sebuah toko buku ternama. Hanya sekadar melihat-lihat saja sih. Dan tanpa disadari, di luar hujan sangat deras. Apa daya kami menunggu hingga reda di depan teras atau klasa toko buku tersebut. Sampai-sampai kami tertidur. Hujan reda, kami melanjutkan agenda selanjutnya, yaitu makan. Yak, memang tujuannya mungkin hanya makan dan makan. Hehehe

Dengan berjalan kaki tidak jauh dari toko buku, ada tempat atau warung makan Nasi Jamblang Ibad Otoy. Referensi ini saya dapat dari seorang mantan pacar saya yang sering pulang-pergi Jakarta-Cirebon tiap weekend karena suaminya kebetulan kerja di Cirebon (Ya, sampai sedetail itu pengetahuan saya tentang mantan, Oke skip!!). Kemudian, terlintas ide untuk nonton film di bioskop. Oke untuk yang satu ini memang agak tidak nyambung dengan tema. Tapi, karena kebetulan kami sama-sama belum menonton salah satu film yang sedang booming, jadi kami siasati untuk menontonnya bersama-sama. Kami pilih waktu midnight, selain bisa menunggu sambil berjalan-jalan dan bersantai, alasan lainnya adalah agar kami tidak perlu repot-repot mencari penginapan untuk menunggu sampai pagi karena jadwal kereta ke Jakarta kami berangkat pagi. Lumayan bisa irit biaya. Selesai menonton kami langsung menuju stasiun dengan berjalan kaki. Agak jauh, namun dibuat asik aja. Kita memutuskan untuk tidur-tiduran di stasiun sambil menunggu jadwal keberangkatan kereta. Dan kembali melakukan rutinitas seperti semula. Kerja. Dan mengakhiri perjalanan yang tidak jelas ini. Ya, mungkin perjalanannya memang tidak jelas, absurd atau apapun. Tapi, dari ketidak jelasan ini menjelaskan tentang moment kebersamaan yang jelas-jelas akan selalu diingat. Karena bukan tentang perjalanannya, melainkan dengan siapa memory sebuah perjalanan itu kita lakukan. :))

Ini link video keseruan kami:

https://youtu.be/UpJYugfaWUk

Tentang Perjalanan (part 1)

          Bagi kebanyakan orang, melakukan sebuah perjalanan sudah menjadi kebutuhan. Entah untuk melepaskan penat dari kesibukan kantor, deadline yang selalu ditagih oleh atasan, menghindari mata kuliah dengan dosen yang galaknya di atas normal, atau bersembunyi sesaat dari pacar yang kelewat bawel. Tapi, perjalanan menurut saya kali ini adalah mengukur sejauh mana diri saya bisa beradaptasi di tempat yang saya datangi. Beraktifitas layaknya penduduk setempat tanpa merasa rikuh seperti orang asing.

          Bersama dua orang travelmate saya, kami mencoba melakukan hal tersebut. Awalnya, ini ide yang tidak sengaja keluar dari isi kepala. Tapi, apa salahnya dicoba. Sebagai perdana, Cirebon adalah kota yang kami pilih untuk daftar tujuan. Kenapa Cirebon? Kami pun tidak bisa menjawab alasan tepatnya. Mungkin, karena kami bertiga sama-sama belum pernah ke sana, atau mungkin saja karena di sana banyak macam kuliner khasnya, bisa jadi. Tapi, mungkin juga karena keterbatasan waktu yang hanya dua hari saja, dan itu pun ketika week end. Maklum, kami bertiga hanya orang-orang yang berusaha bertahan hidup di kerasnya ibu kota. Jadi, sehari-hari waktu kami dihabiskan untuk bekerja. Hehe :D

          Jumat malam, kami bertolak dari stasiun Pasar Senen dengan kereta ekonomi Kertajaya tambahan pada pukul 23.15 WIB. Kami membuat kesepakatan untuk kumpul di stasiun dua jam sebelum keberangkatan agar bisa santai sambil menunggu waktu keberangkatan. Seperti biasa, pemandangan stasiun  di jumat malam sangat riuh sekali, dan wajar saja jika tiket keberangkatan untuk waktu ini selalu ludes. Untung kami mengantisipasi dengan membeli satu bulan sebelum hari H. Week end memang selalu dimanfaatkan banyak orang untuk melakukan serangkaian kegiatan atau perjalanan yang menggunakan moda transportasi ini. Ada yang pulang kampung menengok orang tuanya, ada para pendaki dengan tas kerilnya yang setinggi harapan, ada juga yang ingin melakukan perjalanan yang tidak jelas, seperti kami bertiga ini (nanti saya ceritakan).

     "Stasiun Pasar Senen, stasiunnya para backpacker, pendaki dan mereka yang lagi patah hati". :p

Jakarta, 02 Maret 2016