Senin, 30 Maret 2015

Awan Kecil

Mungkin, dengan kiasan itu aku menggambarkan semua tentang-mu. Kamu yang kecil, lucu, manis, enerjik, dan selalu beruntung kayak dewi fortuna. Tak pernah takut kemana angin membawamu pergi karena kau pandai menyimpan ketakutan dalam diri, meski terkadang air mata tak sanggup kau bendung.

Kelak, aku ingin menjadi orang yang bisa mendengar cerita-cerita tentang petualanganmu dalam melawan hari. Memulai hari dengan dua rakaat, lalu  menyiapkan teh hangat atau sekadar merapikan kerah kemejaku ketika tuntutan hidup mulai berteriak di kupingku. Dengan tubuh yang berbalut kain kesukaanmu, meski terlihat sederhana dan apa adanya, tapi tak kalah dengan Putri Diana.

Ingin menjadi juri yang tepat saat kau bimbang dalam memutuskan pakaian mana yang akan kau kenakan untuk kita ke pesta atau sekadar menghiburmu ketika kamu ngambek saat aku tak memberimu kabar atau ucapan "Selamat tidur" dari rasa resah yang membelit.

Ingin bertemu lagi dengan senyum yang masih sama manisnya dengan teh tadi pagi, sebab itu pertanda kebahagiaan masih berpihak padaku. Candaanmu seperti mengakrabkan kita pada waktu agar lupa caranya berputar, sehingga kita bisa lebih lama bersama. Hingga pada suatu hari nanti, Ketika kau pulang dari petualang, segera ku seduhkan teh hangat dan untukmu  ku tuang. Lalu kita saling mengisi waktu luang.

Meski tanpa kita sadari, waktu terus berjalan, tak bisa menunggu. Kitalah yang harus mengejar, berdua, untuk menjadi satu. Di hari itu. Karena, kehidupan sesungguhnya berawal dari kamu, aku. Dan kelak buah hati kita.

Selasa, 10 Maret 2015

Bukan cerita tentang kopi

Ada yang tumpah dari bibir cangkir. Maklum, sebagai yang kali pertama agaknya terlalu heboh. Sebenarnya, tak perlu terburu-buru mengaduk, kadang hanya perlu membiarkan sesaat agar rasa pekat dan manis bercampur, menyatu menjadi kesatuan rasa yang berbeda menurut tiap orang yang menyesapnya.

Katanya, tergantung bagaimana mencampurnya dan ada takaran tertentu agar tercipta rasa yang pas. Entahlah, mungkin perlu waktu banyak untuk mencerna apa yang dijelaskan tentang ramuan itu. Aku lebih fokus memperhatikan bibirnya, yang kadang melontarkan suara-suara mungil nan manja.

Kata perkata terlempar dari bibir, menjadikan obrolan hangat dengan beberapa pertanyaan dan jawaban sambil sesekali menyesap isi cangkir untuk sekadar membasahi kerongkongan atau menghilangkan kecanggungan agar terasa lebih hangat. Meskipun di luar dingin sisa hujan seharian. Satu hal yang harus disadari, ternyata, tak butuh banyak gula untuk secangkir cappucino. Hanya butuh kamu, Sebagai pemanis waktu.