Akhirnya, sayang, aku harus menulisnya. Menuliskan cerita yang belum selesai. Ya, belum bagiku. Karena kamu yang memilih untuk menyelesaikannya. Banyak alasan, menurutmu. Tentang ragu yang menjadi palu di kepalamu. Itu salah satu. Atau mungkin tentang hadirnya orang baru? Entahlah, sebelumnya aku tidak yakin dengan point yang kedua. Tapi itulah jalan cerita. Ketika asumsi bisa jadi pikiran utama. Maka tak perlu paragraf-paragraf berikutnya.
Belum hilang diingatan, tentang ketakutan yang pernah ku utarakan padamu. Ah, pasti kau pun masih merekamnya di kepala. Jadi, tak perlu ku jabarkan lagi. Terlalu sebentar untuk cerita yang datar, memang, tapi seperti itukah perjalanannya? Aku rasa tidak. Banyak peristiwa-peristiwa yang tercatat rapih dalam diary. Tentang luka pun tawa. Jujur, aku tak pernah mengharapkan air mata. Namun, sering kali ia bersarang di ceruk matamu, terjun bebas, melesat, bergerak cepat melewati pipimu. Menetes lalu menetas rasa. Rasa yang tertahan di hatimu. Bahkan kita pernah hina dengan dosa yang kita buat bersama. Sungguh aku tak benar-benar menginginkan itu.
Pada sepertiga cerita, aku pernah punya mimpi, dan kamu menguatkan hingga mimpi itu menjadi mimpi kita. Tentang masa depan yang kamu bilang ada aku di dalamnya, pun juga denganku. Ada kamu di masa depanku. Ya, sejauh itu dan seliar itu imajinasi kita yang pada akhirnya mimpi hanya akan jadi sebuah mimpi tanpa kita(maksudku kamu)yang mewujudkannya. Ya, kamu. Karena kamu yang memilih untuk menyelesaikannya. Menghentikan semua jalan cerita.
Kamu, perempuan bodoh. Perempuan jenius dalam akademik namun bodoh karena telah mencintaiku. Begitu aku pernah mengatakannya padamu, bukan?. Mungkin aku yang bodoh, mau maunya diperdaya perasaan olehmu. Dicampakan ketika sedang berjuang melawan diri sendiri, berjuang terhadap garis lurus yang menjadi sebuah keyakinan. Yang harusnya kamu ada disaat- saat seperti itu. Semoga kamu tak lagi bodoh, sayang. Ya, kamu yang masih jadi kesayanganku. Yang entah sampai kapan. Yang sekarang jadi kesayangannya. Yang sekarang menyayanginya.